Rabu, 07 September 2011

SUDUT JAKARTA

Cita cita tanpa rasa

       Mungkin kita sewaktu kecil punya cita cita setinggi puncak gunung Jayawija,tanpa “babibu” kita sebut saja dengan asal cita cita yang diinginkan,pokoknya harus keren,contoh standar nya seperti polisi,abri,dokter dan segala macam job keren lainnya.Kalau jaman sekarang mungkin kita masih suka mendengar standar job sewaktu kita kecil yang diidolakan oleh anak jaman sekarang,tapi yang membuat saya kaget ada beberapa anak yang bilang ke orang tua nya bila ditanya jawabannya seperti ini “Nak,kalau udah besar mau jadi apa?” dan sang anak pun jawab “jadi naruto ma!” atau “jadi  kayak harry potter ma!”,waaaw menurut gw itu cool banget dan gw aja yang sudah seumur gini aja juga terkadang masih ingin bercita cita seperti anak kecil jaman sekarang,andai sekolah Hogwarts memang ada,pasti gw pengen masuk situ,dan ngambil jaket harry potter yang bisa menghilang,dan ngintip masuk ke kamar Hermione a.k.a Emma Watson(yaaah,dia memang idola hidup dan mati,dunia dan akhirat saya)
            Sewaktu saya masih kecil,saya juga punya cita cita setinggi nirwana(maaf bila terdengar berlebihan),dulu saya bercita cita menjadi astronot,kaget?saya juga bingung bila memikirkannya sampai sekarang,bila melihat realita sekarang,kayak gak mungkin banget,secara dalam hal berhitung,kemampuan saya sangat tiarap.Kemudian saya juga pernah bercita cita jadi tukang bajaj,mungkin ini yang paling bodoh,karena saya melihat setiap saya pulang naik bajaj bersama ibu saya,saat ibu saya membayar ongkos bajaj,sang tukang bajaj pun dengan jumawa mengeluarkan segepok uang dari kantong dan terlihat waah banget buat saya sewaktu masih sd,dan semenjak itu saya ingin banget punya bajaj(maaf atas cita cita saya sangat parah ini)\
            Semakin saya beranjak smp ke sma,saya mulai seperti krisis identitas,mau jadi apa nanti saya.keseharian di sekolah hanya main dan huru hara,dan dengan bodohnya saya sambil santai bilang ke teman saya”kayaknya gw di sekolah cumin numpang ngerokok doang deh”.Jangan tanya kehidupan sekolah saya sewaktu itu seperti apa,pernah saya datang ke sekolah pagi pagi dengan keadaan habis mabuk,karena sewaktu itu saya sedang menginap di rumah teman,dan karena teman teman saya tahu,kalau saya gampang sekali “naik”mereka terus menyodorkan minuman ke saya.Alhasil di kelas hanya bisa tidur dan gak ngerti pelajaran saat itu.
            Tiba waktunya saat saya mulai naik kelas 3 sma,dan saya berfikir “gw gak boleh kayak gini terus,gw harus jadi orang”entah itu mau jadi orang gila atau orang orangan sawah(maaf saya hanya bercanda).Sewaktu itu ada beberapa teman menganjurkan saya untuk masuk psikologi,tapi saya menjawab dalam hati”gila!hidup gw aja gak beres gini,gimana nanti gw ngasih solusi dan saran ke orang lain,bisa bisa dia jadi lebih gak beres daripada gw”.semakin mendekati ujian saringan masuk universitas,saya semakin bingung,dan saya hanya bercita cita sewaktu itu ingin masuk ke universitas yang didambakan oleh sejuta umat manusia dan jiwa lainnya yaitu Universitas Indonesia,karena saya ingin menjadi seperti kakak kakak saya yang kuliah disana,tapi memang bukan jalan yang diberikan olehNya,saya terus gagal dalam ujian.
            Akhirnya memang saya terlihat mellow karena hal ini,tapi karena dukungan dari orang sekitar,yang saya syukuri masih ada memperhatikan(Thanks God)entah kenapa tiba tiab saya ingin menjadi jurnalis,karena menurut saya,inilah passion saya.Karena menurut saya ini hal yang sangat mengasyikkan sekaligus hobi untuk saya,karena disana pasti saya akan bertemu dengan berbagai macam jenis orang dan segala sifatnya,jujur saya tidak tertarik kerja “ten to five”yaitu kerja dibalik meja,dan mengurus segala hal yang kadang saya lihat seperti jenuh.
            Kadang untuk orang orang yang seumur kita ini,kita bercita cita seperti tanpa rasa,hanya untuk mengejar gengsi dan materi,belum tentu kita juga nyaman akan hal tersebut.Tapi saya percaya apa yang kita cita citakan dan kita senangi bisa menjadi lebih dari gengsi dan materi.Mungkin ada pepatah mengatakan “gantungkanlah cita citamu setinggi langit”,jujur saya kurang setuju pepeatah tersebut,saya berfikir gantungkan lah apa yang kamu cita citakan setinggi atap kamar,karena kamu tahu pasti kamu akan meraihnya,karena langit juga masih jauh dari genggaman kita sebagai manusia.


Eduardus Rayendra
03 agustus 2011

Senin, 22 Agustus 2011

SUDUT JAKARTA

Jakarta(Masih)Nyaman

Mungkin kita sering mendengar keluh kesah,rasa dongkol,atau bahkan cercaan di sekeliling ibu kota kita tercinta ini,tetapi coba apakah kita bisa temukan keasyikan atau bahkan kenyamanan kalau ada di ibu kota kita ini.
Ini mungkin masih pendapat saya,tolong jangan berikan komentar dulu sebelum saya menjelaskan mengapa saya masih bisa temukan kenyamanan dari kota Jakarta.Masih bisa?
Saya akan membandingkan Jakarta dengan sejumlah kota besar di dunia.Jangan Tanya apakah saya pernah keliling dunia atau belum,bahkan untuk pergi ke negeri tetangga yang dekat saja,saya masih belum sampai untuk sampai disana bahkan kota yang paling jauh singgahi ialah Pulau Bangka,itupun berapa belas tahun silam,terdengar sedih?mungkin.Yang saya hanya bisa lakukan hanyalah,buka internet dan membuka website google earth,untuk melihat keindahan atau segala “tetekbengek” yang sering kita lihat di buku,majalah,atau media lainnya.Disini saya akan membandingkan berdasarkan pengalaman kerabat saya sering berlancong ke negeri orang,dan mudah mudahan pengalaman itu benar adanya.
Mari kita lihat dari warung yang bertebaran di sekeliling rumah kita,saya mungkin akan mengambil sedikit contoh kenyamanannya,dimana bagi orang yang ketergantungan dalam rokok,bisa secara cepat dan singkat mendapatkan sebungkus rokok yang diinginkan,apabila uang di kantong terasa seperti meledek,masih bisa dibeli dengan cara “ketengan”mungkin itu bagi kita menjadi hal yang lumrah,tapi bagaimana dengan orang orang yang ada di negeri lain sana,merupakan hal yang sulit terjadi.Terdengar seperti malaikat memang penjaga warung ini bagaimana mereka masih bisa mengatasi kebutuhan yang diinginkan konsumennya,dan bahkan walaupun di kotak rokok tertulis hanya boleh untuk orang yang dikatakan dewasa,tetapi anak sd saja sudah dapat menghisap dengan riangnya menghabiskan sebatang rokok yang dijual secara “ketengan”tersebut.
Kemudian mari kita lihat bus dalam kota yang menjadi raja di jalanan ibu kota,entah itu bus mayasari,kopaja,bianglala,patas ac,atau semacamnya,yang kelihatannya umur bus dalam kota tersebut lebih tua daripada umur orangtua saya(maaf bila saya terasa berlebihan,tapi itulah yang saya rasakan).Letak kenyamanan dapat kita lihat bagaimana penumpang bisa memberhentikan dengan seenaknya bus tersebut,efektif?mungkin,daripada kita harus capek jalan untuk menuju halte terdekat,lebih kita tunggu di tempat sesukanya,dan memberhentikan juga secara sesukanya dan kita tinggal duduk atau berdiri manis bersama “aroma surga” atau bahkan kalau kita beruntung kita bisa duduk bersebelahan dengan penjual ayam,lengkap dengan ayam hidupnya.Kita juga bisa mendapat “mini concert” dadakan di dalam sana,dengan serba alat minimalisnya seperti gitar,botol isi beras,dan juga sebungkus merek permen untuk memberi sumbangan,walaupun kadang kita harus terpaksa memberi,tapi bila anda
bisa beruntung seperti saya,anda akan menemukan pengamen dengan membawa alat biola dan terompet dan memainkan instrument yang keren,dan dalam hati saya berkata”hey bung,anda kurang cocok bermain disini anda lebih cocok main di tempat penuh ac,dan ditonton oleh sekelompok remaja wanita labil lengkap dengan dress,high heels nya,juga kamera SlR”.
Ini membuktikan bahwa,bus dalam kota yang sering kita hina dengan binatang yang terasa “pantas”didengar ini,memberikan kenyamanan bagi penikmatnya,bahkan bisa dijadikan mata pencaharian.
Mungkin masih banyak lagi kenyamanan yang dapat kita temukan,maafkan atas kemampuan saya dalam hal mengingat,karena saya tau kemampuan saya masih kalah dibandingkan dengan sekeping disket.Tetapi cobalah kita untuk berhenti sejenak mencibir kota tercinta kita ini,bila kita bisa bersuara coba tolong jangan hanya berteriak kesal,tapi cobalah lakukan sesuatu perubahan kearah lebih baik untuk Jakarta,tetapi bila kamu tidak bisa lakukan hal apapun,cobalah untuk cari sisi kenyamanan dari semrawutnya kota yang paling kita cinta ini.
Eduardus Rayendra
01 Agustus 2011