Minggu, 30 Desember 2012

NEWS

Geng Motor Bobol Gerai Esia di Cawang

JAKARTA, Dewi Sartika - Gerai penyedia layanan jasa komunikasi Esia yang berada di Jalan Dewi Sartika, Kramat Jati, Jakarta Timur, dibobol maling, Rabu (14/11/2012) dini hari. Diduga, pelaku yang berjumlah sekitar 10 orang tersebut adalah kelompok geng motor.

Oge (46), tukang parkir kawasan toko sekaligus saksi mata mengungkapkan, musibah tersebut terjadi pada pukul 03.00 WIB dini hari tadi. Saat itu, gerai Esia yang tergabung dengan kawasan pertokoan lainnya tersebut tidak ada aktifitas.

"Sekitar jam 03.30 WIB, saya mantau kesini. Kan rumah saya di seberang toko. Saya lihat ada sekitar 10 orang, pakai motor semua, sebagian ada di depan toko sebagian di depan gerbang," ujar Oge kepada Kompas.com di lokasi kejadian, Rabu siang.

Saat Oge datang ke tempat kerjanya tersebut, kondisi pagar yang seharusnya terkait gembok dan rantai besi diketahui telah terbuka lebar. Curiga atas gerak gerik para pelaku yang diduga kelompok geng motor, Oge pun memberanikan diri untuk melakukan komunikasi dengan pelaku yang ada di depan gerbang.

"Saya takut juga mereka banyak gitu, ngerinya mereka bawa senjata tajam. Saya bilang, bang tumben nih. Mereka langsung berdiri, lagi nunggu temen nih, katanya gitu," lanjut Oge menirukan percakapannya dengan salah seorang pelaku.

Melihat gerak-gerik pelaku, Oge kian curiga. Ia pun pulang ke rumahnya untuk berkoordinasi dengan kawan-kawannya sekaligus mengambil senjata tajam untuk membela diri. Sayangnya, setelah Oge kembali ke gerai Esia tersebut, para pelaku diketahui telah pergi dari lokasi kejadian.

Soni Siagian (50, karyawan Bakrie Telcom mengatakan, para pelaku berhasil mengambil sejumlah barang yang dijual di dalam gerai. Yaitu tiga unit CPU, dua unit layar monitor, puluhan voucher pulsa, delapan unit Blackberry, ponsel Esia, dua unit modem internet dengan jumlah kerugian Rp. 50 juta.

"Pelaku masuk dengan cara menggergaji engsel rolling door. Dibuka seperempat aja, buat jalan mereka masuk. Tapi tadi pagi juga sudah dilas diperbaiki," ujar Soni.

Atas musibah tersebut, aktivitas gerai Esia dipastikan tidak beroperasi hingga waktu yang belum bisa ditentukan. Setelah melapor, kasus tersebut pun ditangani Satuan Reserse Kriminal Polsek Kramat Jati.

ARTIKEL

INDONESIA CREATIVE POWER


Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI) berlangsung pada 21 - 25 November 2012 di Epiwalk, Kuningan, Jakarta Selatan. Pekan Produk Kreatif Indonesia merupakan kegiatan tahunan yang bertujuan sebagai wadah kreativitas masyarakat untuk menampilkan ragam budaya Indonesia yang kaya dan berlimpah dan dikemas secara kreatif.

Penyelenggara memberi kesempatan bagi masyarakat terutama anak muda untuk menunjukkan kreativitasnya sesuai di bidangnya masing-masing. Dengan demikian, mereka dapat berkontribusi untuk menjadikan Indonesia lebih baik. Event ini juga melibatkan instansi pemerintah dan swasta yang bekerjasama demi mewujudkannya kelangsungan dan kelancaran acara.

Pada tahun ini PPKI mengusung tema yakni Indonesia Creative Power “Yang Muda Yang Berkreasi.” Dilihat dari temanya, menargetkan anak muda untuk datang dan mengapresiasi kegiatan serta hasil karya yang diciptakan oleh karya anak bangsa, dengan menyajikan rangkaian program menarik seperti aktivitas konvensi, pertunjukan, pameran dan permainan dan tentunya tidak ketinggalan bagi mereka penikmat kuliner. Untuk memasuki area PPKI, Anda hanya perlu mengisi buku tamu dan tidak perlu membayar.

Ketika Anda memasuki area PPKI, Anda akan melihat sejumlah karya seni dari Indonesia. Banyak hal yang dapat Anda jelajahi di tempat ini. Salah satunya adalah Paguyuban Mega Remmeng Sumenep-Madura oleh HM. Syukriadi. Di booth ini Anda dapat melihat keris dalam berbagai bentuk, jenis dan ukuran. Booth ini tentunya menjual keris unik tersebut dengan harga sekitar Rp 3.000.000 hingga Rp 13.000.000. 



Selain itu, bagi pengunjung yang menyukai pernak pernik tradisional khas daerah, Anda dapat membeli souvenir dari berbagai daerah dengan ciri khasnya dari setiap daerah tersebut. Hal ini bertujuan untuk mempromosikan keberagaman daerah-daerah di Indonesia serta memudahkan pengunjung untuk membeli hasil kerajinan tangan daerah tanpa perlu mengunjungi daerah tersebut secara langsung.



Untuk menghibur para pengunjung, PPKI menyiapkan sejumlah pertunjukan yang menampilkan seni pertunjukan lokal tradisional. Pertunjukan tersebut dikemas secara kontemporer sehingga memberikan sesuatu yang berbeda untuk pengunjung, lalu band indie Indonesia yang telah memperkuat industri musik tanah air seperti Endah n Rhesa, Agrikulture, Adrian Adioetomo, Andre Harihandoyo and Sonic People, serta masih banyak musisi yang lain yang ikut memeriahkan acara.





Big Applause untuk panitia dan penyelenggara PPKI yang membuat kita lebih mengenal dan cinta akan seni.Semoga membuat kita semakin menghargai dan mengapresiasi karya anak bangsa,cheers!

Sabtu, 29 Desember 2012

NEWS

Eduardus Rayendra
2011-110-200
Blog : http://eduardusdiegoblog.blogspot.com/


IISIP Mendapatkan Sertifikasi Lembaga Penguji Kelayakan Kompetensi Wartawan

JAKARTA, Lenteng Agung – IISIP ditetapkan sebagai salah satu institusi pendidikan penguji kompetensi wartawan Indonesia dengan menerima sertifikasi dari Dewan Pers, Kamis (18/12/2012) di auditorium Yayasan Kampus Tercinta IISIP Jakarta.Selain itu, dua institusi yang menerima sertifikasi adalah Universitas Indonesia dan London School Of Public Relation.

Wina Armada, angota Dewan Pers mengungkapkan, IISIP telah ditetapkan sebagai lembaga penguji kompetensi wartawan setelah Dewan Pers melakukan verifikasi, 5 Desember 2012, yang bertepatan dengan ulang tahun IISIP ke 59.

“IISIP memiliki tradisi panjang yang telah teruji, sehingga kami tidak ragu untuk segera menetapkan IISIP sebagai lembaga penguji kompetensi wartawan yang berlaku secara nasional,”ujar Wina, yang akhirnya setelah diverifikasi, IISIP ditetapkan sebagai lembaga penguji kompetensi wartawan 13 Desember 2012.

Rektor IISIP Maslina W Hoetasoehoet, berharap setelah menerima sertifikat lembaga penguji kompetensi, para dosen yang akan dipercaya sebagai penguji dapat melaksanakan amanah dengan baik dan bertangung jawab.

Sebelumnya Maslina mengatakan bahwa kurikulum yang telah dijalankan di IISIP telah diakui dan diakreditasi oleh pihak pihak yang berkompeten, juga bukan perkara mudah, oleh sebab itu IISIP merekrut dosen praktisi untuk mengajar.

Acara penyerahan sertifikasi dilanjutkan kuliah umum dengan judul “Profesionalisme Wartawan Indonesia Jaminan Media Berkualitas” oleh Ketua Dewan Pers, Bagir Manan.

Selain tiga perguruan tinggi yang telah ditunjuk dan berwenang melakukan uji kompetensi wartawan seacara nasional, lembaga lain juga memiliki kewenangan yakni, organisasi wartawan, perusahaan pers, dan lembaga lembaga pelatihan pers yang telah ditunjuk oleh Dewan Pers.

Sumber : http://gantyo.blogspot.com/2012/12/iisip-ditetapkan-sebagai-lembaga.html

FEATURE

THE POPO



Seperti menemukan sebuah playground , Popo mencintai mural layaknya passion yang ia telah geluti belasan tahun hingga membesarkan namanya.Memulai karya sederhana dengan mengandung pesan pesan isu sosial yang ia gambarkan secara menyentil dan fun.


Sebenernya apa sih filosofi dari nama popo ?
Popo sendiri gue namain lewat karakter gue yang bergambar hitam putih, yang awalnya yang artinya positive progressive dan kesininya menjadi karakter juga mewakili diri gue”

Sejak kapan aktif atau menekuni dalam gambar, graffiti ?
aktif banget mulai tahun 2002. Berawal dari temen-temen yang satu hobi, kampus juga”

Apakah graffiti artist bisa disebut sebuah profesi ?
kalau gue, dulu sih hobi. Sekarang iya jadi suatu profesi. Berawal dari orang liat karya gue, dan mereka minta tolong gue, mempercayakan gue untuk ngerjain mural, entah itu job atau project. Entah itu temanya politik, sosial. Selain itu gue juga berprofesi sebagai desain grafis”

Bagaimana karya anda bisa dikenal secara luas ?
efek dari karya gue yg sudah gue hasilkan dari tahun 2000. Orang lain lihat karya gue, sesuatu yang gue kerjakan konsisten, pada akhirnya orang lain tau apa yang gue kerjakan”

Pameran atau exhibition yang paling berkesan ?
sewaktu pameran di Singapore, Pop Art Party 2012 , beberapa Negara berkumpul, terus karya mural gue menjadi salah satu terfavorit disana, sebagai wakil dari Indonesia”

Siapa orang yang pengen anda ajak untuk berkolaborasi ?
Seniman jalanan asal Inggris. Namanya Banksy. Dia inspirasi buat gue, dari SMA gue pertama kali ngeliat karya-karyanya dia dan gue terinspirasi. Cara dia buat karya itu simple tapi spesifik”

Harapan untuk dunia mural Indonesia ?
tetap ada, baik atau buruknya jalanin aja. Karya-karya seniman harus tetap ada di Indonesia. Sama seperti lo ngomongin sepak bola, baik buruknya kan harus tetap ada. Seperti mural, semua itu butuh proses”

3 kata yang mendekripsikan diri anda ?
humor, fun, and humble. Lo humor, bercanda, seneng-seneng tapi lo tetep harus baik sama semua orang”

FEATURE

Dibalik Derap Langkah Delman



Monumen Nasional, Jakarta Pusat – Bunyi lonceng sayup sayup saling menyaut, suara tapak bergemuruh menggetar dengan mengatasnamakan budaya, sedari pagi sang kusir bertempur demi keluarga.
 
Monumen Nasional atau lebih kita kenal dengan Monas menjadi salah satu tempat berkumpulnya delman beroperasi di Jakarta.Puluhan hingga ratusan delman tampak memenuhi “bibir-birbir” lingkup Monas menjelang akhir minggu atau liburan nasional.Bergerak kesana kemari menawarkan jasa, berputar putar membawa penumpang untuk menilik tempat bersejarah dan taman kota.Menjadi salah satu lakon pelestarian adat setempat bukan berarti mereka juga turut diperhatikan.

Salah satu lakon tersebut ialah Ahmad Junaidi, pria berusia 40 tahun asal Cirebon, sudah menekuni profesinya kurang lebih selama satu windu, tentu membuat dirinya menjadi “pemain lama” menjadi kusir delman.Setiap hari kerja beliau menjajakan jasanya ke kampung kampung untuk sekedar berkeliling demi memenuhi kelangsungan hidup “Dibilang cukup gak cukup yaa susah,rejeki dari Gusti Allah yaa mau gimana bukan kita yang mengatur,” ujar beliau yang menambahkan bahwa sisa uang dari berkeliling kampung terkadang hanya tersisa 30 ribu rupiah karena sudah dipangkas untuk keperlhuan pakan dan yang lain juga harus memenuhi kebutuhan anak laki laki semata wayangnya yang kini berumur 17 tahun.Menjelang akhir minggu beliau kembali ke peraduan di jantung kota yakni Monas, sambil berisitirahat dia menceritakan bahwa belum ada-nya ijin resmi untuk beroperasi di dalam Monas.Selama ini beliau dan kawan kawan hanya bias beroperasi di sekitar parkiran meskipun suara siudah disampaikan ke petinggi Pemprov DKI namun belum ada tanggapan.

Menghadapi persaingan penumpang di Monas beliau menjelaskan “Gak ada selak-selakan,rejeki-rejekian aja,penumpang rejekinya kita yaa dia naik”.Tarif yang dikenakan untuk pengunjung yang datang 60 ribu rupiah untuk berkeliling dengan rute: Masjid Istiqlal-Istana Presiden-Museum Gajah, dan kembali ke Monas.

Uang yang didapat bekerja dari pagi hingga malam hari beliau dapat mengantongi sampai 250 ribu rupiah namun itu belum dipotong pajak “preman” sampai 150 ribu rupiah untuk setiap delman.Beliau mengaku sering menerima undangan seperti acara Pekan Raya Jakarta pada pertengahan tahun dengan upah dua hari kerja bisa mengantongi 1 juta rupiah juga disewa untuk acara pernikahan dan sunatan dengan upah empat ratus sampai sembilan ratus ribu rupiah.

Menilik lebih dalam beliau melanjutkan kembali ceritanya bahwa merawat kuda tidaklah gampang, bagian yang sering mengalami kerusakan ialah pada roda dan kaki kuda apalagi kebutuhan pangan-nya, beliau sampai harus berangkat jam enam pagi untuk mengambil rumput di Cengkareng sembari menunggangi delman yang berjarak tempuh dua jam dari rumah beliau di Palang Merah, terlebih sejak meninggalnya istri tercinta belasan tahun yang lalu beliau bekerja sebagai peran double untuk memenuhi kebutuhan anaknya akan kasih sayang dan materi.

Harapan untuk Pemprov DKI beliau mengeluhkan “Dokar sudah menjadi khas DKI,kita juga sudah menjadi bagian pariwisata tolonglah suaranya di-dengar dan turut dilestarikan”.Selama menjadi kusir delman bertahun-tahun tentunya beliau memiliki pengalaman yang berkesan yakni bila membawa wisatawan asing, disitu ia bisa mengajak melihat masyarakat Jakarta lebih dekat dan tempat tempat yang memiliki historis tinggi, lalu mengenalkan budaya Jakarta yang lain seperti Ondel-Ondel kuliner khas Jakarta yakni Kerak Telor.Walaupun sadar tidak fasih dalam berbicara bahasa asing beliau ingin mengajak agar wisatawan asing tidak hanya mengenal Pulau Dewata karena budaya kita tidak hanya sekedar pantai dan kain yang hanya sebagian kecil bagian dari bumi nusantara namun masih memliki banyaknya kebudayaan yang lebih indah milik anak bangsa.

Eduardus Rayendra
2011-110-200

Rabu, 07 September 2011

SUDUT JAKARTA

Cita cita tanpa rasa

       Mungkin kita sewaktu kecil punya cita cita setinggi puncak gunung Jayawija,tanpa “babibu” kita sebut saja dengan asal cita cita yang diinginkan,pokoknya harus keren,contoh standar nya seperti polisi,abri,dokter dan segala macam job keren lainnya.Kalau jaman sekarang mungkin kita masih suka mendengar standar job sewaktu kita kecil yang diidolakan oleh anak jaman sekarang,tapi yang membuat saya kaget ada beberapa anak yang bilang ke orang tua nya bila ditanya jawabannya seperti ini “Nak,kalau udah besar mau jadi apa?” dan sang anak pun jawab “jadi naruto ma!” atau “jadi  kayak harry potter ma!”,waaaw menurut gw itu cool banget dan gw aja yang sudah seumur gini aja juga terkadang masih ingin bercita cita seperti anak kecil jaman sekarang,andai sekolah Hogwarts memang ada,pasti gw pengen masuk situ,dan ngambil jaket harry potter yang bisa menghilang,dan ngintip masuk ke kamar Hermione a.k.a Emma Watson(yaaah,dia memang idola hidup dan mati,dunia dan akhirat saya)
            Sewaktu saya masih kecil,saya juga punya cita cita setinggi nirwana(maaf bila terdengar berlebihan),dulu saya bercita cita menjadi astronot,kaget?saya juga bingung bila memikirkannya sampai sekarang,bila melihat realita sekarang,kayak gak mungkin banget,secara dalam hal berhitung,kemampuan saya sangat tiarap.Kemudian saya juga pernah bercita cita jadi tukang bajaj,mungkin ini yang paling bodoh,karena saya melihat setiap saya pulang naik bajaj bersama ibu saya,saat ibu saya membayar ongkos bajaj,sang tukang bajaj pun dengan jumawa mengeluarkan segepok uang dari kantong dan terlihat waah banget buat saya sewaktu masih sd,dan semenjak itu saya ingin banget punya bajaj(maaf atas cita cita saya sangat parah ini)\
            Semakin saya beranjak smp ke sma,saya mulai seperti krisis identitas,mau jadi apa nanti saya.keseharian di sekolah hanya main dan huru hara,dan dengan bodohnya saya sambil santai bilang ke teman saya”kayaknya gw di sekolah cumin numpang ngerokok doang deh”.Jangan tanya kehidupan sekolah saya sewaktu itu seperti apa,pernah saya datang ke sekolah pagi pagi dengan keadaan habis mabuk,karena sewaktu itu saya sedang menginap di rumah teman,dan karena teman teman saya tahu,kalau saya gampang sekali “naik”mereka terus menyodorkan minuman ke saya.Alhasil di kelas hanya bisa tidur dan gak ngerti pelajaran saat itu.
            Tiba waktunya saat saya mulai naik kelas 3 sma,dan saya berfikir “gw gak boleh kayak gini terus,gw harus jadi orang”entah itu mau jadi orang gila atau orang orangan sawah(maaf saya hanya bercanda).Sewaktu itu ada beberapa teman menganjurkan saya untuk masuk psikologi,tapi saya menjawab dalam hati”gila!hidup gw aja gak beres gini,gimana nanti gw ngasih solusi dan saran ke orang lain,bisa bisa dia jadi lebih gak beres daripada gw”.semakin mendekati ujian saringan masuk universitas,saya semakin bingung,dan saya hanya bercita cita sewaktu itu ingin masuk ke universitas yang didambakan oleh sejuta umat manusia dan jiwa lainnya yaitu Universitas Indonesia,karena saya ingin menjadi seperti kakak kakak saya yang kuliah disana,tapi memang bukan jalan yang diberikan olehNya,saya terus gagal dalam ujian.
            Akhirnya memang saya terlihat mellow karena hal ini,tapi karena dukungan dari orang sekitar,yang saya syukuri masih ada memperhatikan(Thanks God)entah kenapa tiba tiab saya ingin menjadi jurnalis,karena menurut saya,inilah passion saya.Karena menurut saya ini hal yang sangat mengasyikkan sekaligus hobi untuk saya,karena disana pasti saya akan bertemu dengan berbagai macam jenis orang dan segala sifatnya,jujur saya tidak tertarik kerja “ten to five”yaitu kerja dibalik meja,dan mengurus segala hal yang kadang saya lihat seperti jenuh.
            Kadang untuk orang orang yang seumur kita ini,kita bercita cita seperti tanpa rasa,hanya untuk mengejar gengsi dan materi,belum tentu kita juga nyaman akan hal tersebut.Tapi saya percaya apa yang kita cita citakan dan kita senangi bisa menjadi lebih dari gengsi dan materi.Mungkin ada pepatah mengatakan “gantungkanlah cita citamu setinggi langit”,jujur saya kurang setuju pepeatah tersebut,saya berfikir gantungkan lah apa yang kamu cita citakan setinggi atap kamar,karena kamu tahu pasti kamu akan meraihnya,karena langit juga masih jauh dari genggaman kita sebagai manusia.


Eduardus Rayendra
03 agustus 2011