Jakarta(Masih)Nyaman
Mungkin kita sering mendengar keluh kesah,rasa dongkol,atau bahkan cercaan di sekeliling ibu kota kita tercinta ini,tetapi coba apakah kita bisa temukan keasyikan atau bahkan kenyamanan kalau ada di ibu kota kita ini.
Ini mungkin masih pendapat saya,tolong jangan berikan komentar dulu sebelum saya menjelaskan mengapa saya masih bisa temukan kenyamanan dari kota Jakarta.Masih bisa?
Saya akan membandingkan Jakarta dengan sejumlah kota besar di dunia.Jangan Tanya apakah saya pernah keliling dunia atau belum,bahkan untuk pergi ke negeri tetangga yang dekat saja,saya masih belum sampai untuk sampai disana bahkan kota yang paling jauh singgahi ialah Pulau Bangka,itupun berapa belas tahun silam,terdengar sedih?mungkin.Yang saya hanya bisa lakukan hanyalah,buka internet dan membuka website google earth,untuk melihat keindahan atau segala “tetekbengek” yang sering kita lihat di buku,majalah,atau media lainnya.Disini saya akan membandingkan berdasarkan pengalaman kerabat saya sering berlancong ke negeri orang,dan mudah mudahan pengalaman itu benar adanya.
Mari kita lihat dari warung yang bertebaran di sekeliling rumah kita,saya mungkin akan mengambil sedikit contoh kenyamanannya,dimana bagi orang yang ketergantungan dalam rokok,bisa secara cepat dan singkat mendapatkan sebungkus rokok yang diinginkan,apabila uang di kantong terasa seperti meledek,masih bisa dibeli dengan cara “ketengan”mungkin itu bagi kita menjadi hal yang lumrah,tapi bagaimana dengan orang orang yang ada di negeri lain sana,merupakan hal yang sulit terjadi.Terdengar seperti malaikat memang penjaga warung ini bagaimana mereka masih bisa mengatasi kebutuhan yang diinginkan konsumennya,dan bahkan walaupun di kotak rokok tertulis hanya boleh untuk orang yang dikatakan dewasa,tetapi anak sd saja sudah dapat menghisap dengan riangnya menghabiskan sebatang rokok yang dijual secara “ketengan”tersebut.
Kemudian mari kita lihat bus dalam kota yang menjadi raja di jalanan ibu kota,entah itu bus mayasari,kopaja,bianglala,patas ac,atau semacamnya,yang kelihatannya umur bus dalam kota tersebut lebih tua daripada umur orangtua saya(maaf bila saya terasa berlebihan,tapi itulah yang saya rasakan).Letak kenyamanan dapat kita lihat bagaimana penumpang bisa memberhentikan dengan seenaknya bus tersebut,efektif?mungkin,daripada kita harus capek jalan untuk menuju halte terdekat,lebih kita tunggu di tempat sesukanya,dan memberhentikan juga secara sesukanya dan kita tinggal duduk atau berdiri manis bersama “aroma surga” atau bahkan kalau kita beruntung kita bisa duduk bersebelahan dengan penjual ayam,lengkap dengan ayam hidupnya.Kita juga bisa mendapat “mini concert” dadakan di dalam sana,dengan serba alat minimalisnya seperti gitar,botol isi beras,dan juga sebungkus merek permen untuk memberi sumbangan,walaupun kadang kita harus terpaksa memberi,tapi bila anda
bisa beruntung seperti saya,anda akan menemukan pengamen dengan membawa alat biola dan terompet dan memainkan instrument yang keren,dan dalam hati saya berkata”hey bung,anda kurang cocok bermain disini anda lebih cocok main di tempat penuh ac,dan ditonton oleh sekelompok remaja wanita labil lengkap dengan dress,high heels nya,juga kamera SlR”.
Ini membuktikan bahwa,bus dalam kota yang sering kita hina dengan binatang yang terasa “pantas”didengar ini,memberikan kenyamanan bagi penikmatnya,bahkan bisa dijadikan mata pencaharian.
Mungkin masih banyak lagi kenyamanan yang dapat kita temukan,maafkan atas kemampuan saya dalam hal mengingat,karena saya tau kemampuan saya masih kalah dibandingkan dengan sekeping disket.Tetapi cobalah kita untuk berhenti sejenak mencibir kota tercinta kita ini,bila kita bisa bersuara coba tolong jangan hanya berteriak kesal,tapi cobalah lakukan sesuatu perubahan kearah lebih baik untuk Jakarta,tetapi bila kamu tidak bisa lakukan hal apapun,cobalah untuk cari sisi kenyamanan dari semrawutnya kota yang paling kita cinta ini.
Eduardus Rayendra
01 Agustus 2011