Dibalik
Derap Langkah Delman
Monumen Nasional, Jakarta Pusat – Bunyi lonceng sayup sayup saling menyaut, suara tapak bergemuruh menggetar dengan mengatasnamakan budaya, sedari pagi sang kusir bertempur demi keluarga.
Monumen Nasional atau lebih kita kenal dengan Monas menjadi salah satu tempat berkumpulnya delman beroperasi di Jakarta.Puluhan hingga ratusan delman tampak memenuhi “bibir-birbir” lingkup Monas menjelang akhir minggu atau liburan nasional.Bergerak kesana kemari menawarkan jasa, berputar putar membawa penumpang untuk menilik tempat bersejarah dan taman kota.Menjadi salah satu lakon pelestarian adat setempat bukan berarti mereka juga turut diperhatikan.
Salah satu lakon tersebut ialah Ahmad Junaidi, pria berusia 40 tahun asal Cirebon, sudah menekuni profesinya kurang lebih selama satu windu, tentu membuat dirinya menjadi “pemain lama” menjadi kusir delman.Setiap hari kerja beliau menjajakan jasanya ke kampung kampung untuk sekedar berkeliling demi memenuhi kelangsungan hidup “Dibilang cukup gak cukup yaa susah,rejeki dari Gusti Allah yaa mau gimana bukan kita yang mengatur,” ujar beliau yang menambahkan bahwa sisa uang dari berkeliling kampung terkadang hanya tersisa 30 ribu rupiah karena sudah dipangkas untuk keperlhuan pakan dan yang lain juga harus memenuhi kebutuhan anak laki laki semata wayangnya yang kini berumur 17 tahun.Menjelang akhir minggu beliau kembali ke peraduan di jantung kota yakni Monas, sambil berisitirahat dia menceritakan bahwa belum ada-nya ijin resmi untuk beroperasi di dalam Monas.Selama ini beliau dan kawan kawan hanya bias beroperasi di sekitar parkiran meskipun suara siudah disampaikan ke petinggi Pemprov DKI namun belum ada tanggapan.
Menghadapi
persaingan penumpang di Monas beliau menjelaskan “Gak ada
selak-selakan,rejeki-rejekian
aja,penumpang rejekinya kita yaa dia naik”.Tarif yang dikenakan
untuk pengunjung yang datang 60 ribu rupiah untuk berkeliling
dengan rute: Masjid Istiqlal-Istana Presiden-Museum Gajah, dan kembali
ke Monas.
Uang yang didapat bekerja dari pagi hingga malam hari beliau dapat mengantongi sampai 250 ribu rupiah namun itu belum dipotong pajak “preman” sampai 150 ribu rupiah untuk setiap delman.Beliau mengaku sering menerima undangan seperti acara Pekan Raya Jakarta pada pertengahan tahun dengan upah dua hari kerja bisa mengantongi 1 juta rupiah juga disewa untuk acara pernikahan dan sunatan dengan upah empat ratus sampai sembilan ratus ribu rupiah.
Menilik lebih dalam beliau melanjutkan kembali ceritanya bahwa merawat kuda tidaklah gampang, bagian yang sering mengalami kerusakan ialah pada roda dan kaki kuda apalagi kebutuhan pangan-nya, beliau sampai harus berangkat jam enam pagi untuk mengambil rumput di Cengkareng sembari menunggangi delman yang berjarak tempuh dua jam dari rumah beliau di Palang Merah, terlebih sejak meninggalnya istri tercinta belasan tahun yang lalu beliau bekerja sebagai peran double untuk memenuhi kebutuhan anaknya akan kasih sayang dan materi.
Harapan untuk Pemprov DKI beliau mengeluhkan “Dokar sudah menjadi khas DKI,kita juga sudah menjadi bagian pariwisata tolonglah suaranya di-dengar dan turut dilestarikan”.Selama menjadi kusir delman bertahun-tahun tentunya beliau memiliki pengalaman yang berkesan yakni bila membawa wisatawan asing, disitu ia bisa mengajak melihat masyarakat Jakarta lebih dekat dan tempat tempat yang memiliki historis tinggi, lalu mengenalkan budaya Jakarta yang lain seperti Ondel-Ondel kuliner khas Jakarta yakni Kerak Telor.Walaupun sadar tidak fasih dalam berbicara bahasa asing beliau ingin mengajak agar wisatawan asing tidak hanya mengenal Pulau Dewata karena budaya kita tidak hanya sekedar pantai dan kain yang hanya sebagian kecil bagian dari bumi nusantara namun masih memliki banyaknya kebudayaan yang lebih indah milik anak bangsa.
Eduardus
Rayendra
2011-110-200
Tidak ada komentar:
Posting Komentar